dikutip dari : https://tirto.id dengan beberapa perubahan
Hingga 1 Januari 1991, Uni Soviet adalah negara terbesar di
muka bumi. Wilayahnya mencakup hampir seperenam permukaan daratan bumi. Lebih
tepatnya seluas 22.400.000 km persegi. Area sebesar itu dihuni penduduk
sebanyak 290 juta jiwa dengan beragam etnis, mulai dari Rusia (50,78 persen),
Ukraina (15,45 persen), Uzbek (5,84 persen), Belarusia (3,51 persen), Kazakh
(2,38 persen), hingga Armenia (1,62 persen).
Uni Soviet berhasil mengalahkan pasukan Nazi Jerman pada
Pertempuran Berlin 1945, punya puluhan ribu senjata nuklir, mendirikan Pakta
Warsawa pada 1955 sebagai aliansi militer negara-negara Blok Timur, dan sukses
mengembangkan program luar angkasa sejak 1950-an. Sejumlah prestasi mentereng
itu sudah layak untuk menggelari Soviet dengan sebutan adikuasa.
Catatan CIA World Factbook pada 1991 menyebut, tingkat
literasi rakyat Uni Soviet tergolong tinggi dengan 98 persen warga berusia di
atas 15 dapat membaca dan menulis. Usia harapan hidup rakyat Uni Soviet
rata-rata 65 tahun untuk laki-laki, dan 74 tahun untuk perempuan. Tingkat
migrasi penduduknya nol persen.
Tapi segala kejayaan itu runtuh sejak 1 Januari 1991. Uni Soviet mengalami keretakan hebat. Para
pemimpin Rusia, Ukraina, dan Belarusia (tiga negara pelopor berdirinya Uni
Soviet) menandatangani perjanjian yang mengatur persemakmuran negara-negara
merdeka pada 8 Desember 1991—itulah pertanda awal bubarnya Uni Soviet.
Stasiun televisi
Rusia pada 21 Desember 1991 bahkan memulai program siaran dengan pengumuman:
"Selamat malam. Inilah beritanya. Negara Uni Soviet kini sudah tidak ada
lagi. "
Mikhail Gorbachev
memilih mengundurkan diri dari kursi pemimpin tertinggi Uni Soviet di tanggal
25 Desember 1991. Keesokan harinya, pada 26 Desember 1991, tepat hari ini 27
tahun lalu, Uni Soviet resmi bubar dengan ditandai pengambilalihan
kantor-kantor Uni Soviet oleh pemerintahan Rusia.
Kepergian Stalin, Reformasi Soviet
Untuk sebuah negara adidaya, dengan hanya bertahan 70 tahun
(1922-1991) jelas merupakan rentang yang pendek. Ada banyak faktor yang
memengaruhi bubarnya negara adikuasa itu.
Sejak pemimpin Revolusi Bolshevik Vladimir Lenin meninggal
pada 1924, tampuk kekuasaan Uni Soviet jatuh di tangan Joseph Stalin. Di masa
inilah wajah Soviet lebih banyak berbicara kepada dunia ketimbang masa
kepemimpinan singkat Lenin.
Seperti dilaporkan BBC, Stalin memilih memperkuat kebijakan
"sosialisme di satu negara" ketimbang revolusi sosialisme dunia.
Ide-ide Stalin kemudian populer di kalangan Partai Komunis Uni Soviet (PKUS)
sebagai partai penguasa tunggal.
Stalin menggenjot program yang bakal membikin Soviet menjadi
negara industri modern. Ia mendorong peningkatan produksi di sektor batubara,
minyak, baja dan lainnya. Stalin juga memodernisasi pertanian dengan cara
mengambilalih alat produksi untuk dikelola negara.
Mangkatnya Joseph Stalin pada 5 Maret 1953 membuat kontrol
kuat Uni Soviet kian mengendur. Banyak orang berduka karena kehilangan pemimpin
besar yang mengubah Uni Soviet dari ekonomi feodal menjadi kekuatan industri
serta berperan mengalahkan Adolf Hitler.
Namun bagi jutaan orang yang dipenjara akibat kebijakan
Stalin, kematian orang yang mereka sebut sebagai salah satu diktator paling
kejam di dunia itu membawa harapan baru. Faksi-faksi yang tidak puas kepada
rezim Stalin mulai melakukan reformasi.
Dalam The Dilemmas of De-Stalinization: Negotiating Cultural
and Social Change in the Khrushchev Era (2006), sejarawan Polly Jones menegaskan,
saat Nikita Khrushchev menggantikan Stalin, dimulailah program Khrushchev Thaw
yang sebenarnya merupakan upaya de-Stalinisasi Uni Soviet. Khrushchev
mengkritik pengkultusan sosok Stalin dalam pidato di Kongres Partai Komunis Uni
Soviet (PKUS) ke-20 pada 25 February 1956. Ia juga melonggarkan aturan-aturan
ketat dan membebaskan tahanan politik era Stalin.
Reformasi Soviet terus digenjot hingga naiknya Mikhail
Gorbachev sebagai sekretaris jenderal PKUS pada 11 Maret 1985. Ia meluncurkan
program percepatan ekonomi dan merampingkan birokrasi pemerintahan yang
dianggap ruwet. Encyclopaedia Britannica mencatat, dibanding merangsang
kebangkitan komunisme, Gorbachev lebih memilih kebijakan glasnost
("keterbukaan") dan perestroika ("restrukturisasi").
Glasnost dimaksudkan untuk mendorong dialog dan membuka
pintu kritik terhadap seluruh aparat Uni Soviet. Kontrol negara atas media
maupun opini publik mengendur, gerakan reformasi demokratik menggema di seluruh
Uni Soviet. Sedangkan perestroika ditujukan untuk memperkenalkan kebijakan
pasar bebas bagi industri yang dikelola pemerintah. Kontrol harga juga dicabut
di beberapa pasar meski struktur birokrasi komunis masih tetap bercokol.
Saat Presiden Amerika Serikat (AS) Ronald Reagen meluncurkan
program Pertahanan Strategis pada 1983, di mana AS membangun sistem pertahanan
rudal balistik antarbenua, Soviet merespon dengan menaikkan anggaran militer. Diperkirakan anggaran militer Soviet
berada di angka 10 sampai 20 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara.
Prioritas
pendanaan militer ini berbanding terbalik dengan tren ekonomi yang lesu. Bahkan
di era Gorbachev yang mencanangkan transisi pasar bebas, dukungan dari para
inovator teknologi dan wirausahawan masih diarahkan ke hal-hal yang berkaitan
dengan industri pertahanan.
Beberapa faktor
gabungan tersebut makin mendorong gerakan separatis Soviet tumbuh subur.
Ditambah lagi kenyataan bahwa Soviet terdiri dari beragam kelompok etnis yang
memiliki identitas kebangsaan sendiri.
Berakhirnya Perang Dingin?
Perang Dingin ditandai dengan aksi berebut pengaruh secara
sengit antara Uni Soviet dan AS. Setelah Perang Dunia II (1939-1945) berakhir,
muncul dua kekuatan besar: Blok Barat yang dipimpin AS dan Blok Timur yang
dipimpin Uni Soviet. Medium politik,
ekonomi, hingga propaganda dipakai untuk berebut pengaruh serta dukungan dari
negara-negara yang baru merdeka setelah PD II.
Hancurnya Uni
Soviet jelas memengaruhi peta perseteruan Blok Timur dan Barat. Di akhir 1991,
adikuasa itu hancur berkeping-keping menjadi 15 negara baru yang independen,
termasuk Rusia sebagai sebuah negara demokrasi.
Vladislav Zubok dalam A Failed Empire: The Soviet Union in
The Cold War from Stalin to Gorbachev (2007) menyebut, reformasi Mikhail
Gorbachev yang mengakhiri isolasi, membongkar dogma-dogma ideologis, serta
menampilkan wajah baru Soviet berakhir dengan kebangkrutan. Momen ini sekaligus dianggap mengakhiri era Perang
Dingin.
Tetapi sesungguhnya Perang Dingin tidak benar-benar selesai.
Uni Soviet runtuh, Rusia berdiri sebagai negara pewaris sisa kejayaannya.
Perseteruan Rusia dengan AS dalam bingkai Perang Dingin masih berlanjut. Kedua
negara masih secara rutin melakukan praktik spionase. Tak jarang keduanya
memergoki aksi tersebut dan saling mendeportasi diplomat, mengusir warga
negara, menangkap agen rahasia, dan lainnya.

Wuihh
BalasHapus